CINTA ITU "WALAUPUN" BUKAN "KARENA"

Sabtu, 12 Maret 2011

PROSES KEPERAWATAN JIWA


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan dalam memberi asuhan keperawatan klien pada semua tatanan pelayanan kesehatan.
Khususnya di Indonesia, proses keperawatan merupakan pendekatan yang disepakati untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Namun pada kenyataanya banyak perawat merasakan beban dalam melaksanakan dan mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Melalui evaluasi dokumentasi keperawatan pada beberapa rumah sakit umum ditemukan bahwa kemampuan perawat menuliskan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan rata-rata kurang dari 60 % yang memenuhi kriteria. Sementara profesi lain menganggap penggunaan proses keperawatan akan menyita banyak waktu dan kertas sehingga sehingga tidak efektif dan efdesien. Kondisi ini tidak mengurangi semangat para perawat untuk membuktikan bahwa proses keperawatan dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan, tanggung jawab perawat, otonomi perawat dan kepuasan perawat.
Proses keperawatan jiwa mengalami masalah yang sama dengan rumah sakit umum. Hasil evaluasi terhadap dokumentasi keperawatan pada dua rumah sakit jiwa yang besar, ditemukan kuran dari 40 % yang memenuhi kriteria. Dari wawancara dengan beberapa perawat yang bekerja dirum,ah sakit jiwaditemukan beberapa kesulitan, yaitu:belum ada formilir pengkajian yang seragam, kemampuan melaksanakan proses keperawatan masih dirasakan sebagai beban.
Buku ini akan menguraikan konsep proses keperawatan kesehatan jiwa yang praktis, disertai contoh penerapannya,. Dilampirkan pula formulir pengkajian,rencana, implementasi dan evaluasi disertai petunjuk dan penulisan yang jelas. Diharapkan buku ini akan memberi arahan yang memudahkan perawat dalam melaksanakan sehingga asuhan keperawatan akan menjadi efektif dan efesien.

BAB II
PEMBAHASAN

Keperawatan jiwa adalah area spesialistik dalam praktek keperawatan, menggunakan teori prilaku sebagai ilmunya dan menggunakan diri sebagai alatnya
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antar perawat dengan klien keluarga dan masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal
Merupakan suatu metoda sistematis dan ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai mempertahankan keadaan biologi, psikologi, sosial dan spiritual yang optimal Manfat menggunakan proses keperawatan. Perawat dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang  Meningkatkan otonomi bersifat rutin Manfaat lainnya dan  Sebagai percaya diri  sarana diseminasi iptek keperawatan untuk pengembangan karir melalui pola pikir penelitian
Manfaat bagi klien :
1.      Asuhan keperawatan yang diterima bermutu dan dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
2.      Partisipasi klien meningkat dalam menuju keperawatan mandiri
3.      Terhindar dari mal praktek  Mandiri
Proses keperawatan merupakan sarana kerja sama antara perawat, klien dan keluarga. Dengan menyertakan klien dan keluarga maka pemulihan kemampuan mereka dalam mengendalikan kehidupan lebih mungkin tercapai dan  Tahap-tahap mereka akan belajar bertanggung  jawab. Terhadap  prilakunya  proses keperawatan. : Pengkajian, Diagnosa kep., Perencanaan,. Implementasi dan Evaluasi
1.      Pengkajian
Merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan yang perlu dilakukan perawat : mengkaji data dari  klien dan keluarga tentang  tanda-tanda dan gejala serta faktor penyebab, memvalidasi data, mengelompokkan data dan menetapkan masalah klien. Data yang didapat digolongkan menjadi dua :
a.       Data subjektif, data yg disampaikan secara lisan, oleh klien dan keluarga, didapat melalui Wawancara oleh perawat terhadap  klien dan keluaga
b.      Data objektif, data yang ditemukan secara nyata, melalui. Observasi/pemeriksan langsung oleh perawat
Isi Pengkajian :
1.      Identitas klien
2.      Keluhan utama / alasan masuk
3.      Faktor predisposisi
4.      Aspek fisik/ biologis
5.      Aspek psikososial
6.      Status mental
7.      Kebutuhan persiapan pulang
8.      Mekanisme koping
9.      Masalah psikososial dan lingkungan
10.  Pengetahuan
11.  Aspek medis
Berdasarkan sumber : Data yang langsung didapat perawat disebut data primer, data yang diambil dari hasil pengkajian atau catatan tim kesehatan lain disebut data sekunder. Setelah data subjektif dan objektif dapat teridentifikasi, data-data tersebut dikelompokkan dan dianalisa untuk menyimpulkan masalah keperawatan klien
Kemungkinan kesimpulannya :
1.      Tidak ada masalah tetap ada kebutuhan:
a.       Pemeliharaan kesehatan dan tindak alanjut ( Follow up )
b.      Memerlukan peningkatan kesehatan : promosi dan prevensi ( antisipasi )
2.      Ada masalah dengan kemungkinan :
a.       Resiko terjadi masalah, sdh ada faktor yg dpt menimbulkan
b.      Aktual terjadi masalah disertai data pendukung
Umumnya masalah keperawatan. saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah Pada pohon masalah terdapat 3 komponen penting :
a.       Masalah utama (CP) : prioritas dr bbrp masalah klien. Umumnya berkaitan dgn keluhan utma/ alasan masuk.
b.      Penyebab (Causa) : penyebab masalah utama
c.       Akibat ( effect ) : akibat dr masalah utama, efek ini dpt menyebabkan efek yg lainnya dst.
2.      Diagnosa Keperawatan
Merupakan suatu pernyataan masalah keperawatan. Klien yang mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stressor yang menunjang (Stuart & Sundeen, 1995)
Diagnosa keperawatan. pada kasus Ani dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.       Resti mencederai diri
b.      Gangguan sensori persepsi : halusinasi
c.       Isolasi Sosial
d.      Defisit merawat diri
Kemampuan perawat yang diharapkan dalam pengkajian adalah mempunyai kesadaran/ tilik diri ( self-awareness ), kemampuan observasi yang akurat, kemampuan komunikasi terapeutik dan senantiasa mampu berespon secara efektif Kegiatan yang dilakukan perawat : membina hubungan saling percaya dengan ; melakukan kontrak, mengkaji data dari klien dan keluarga, memvalidasi data, mengorganisir dan mengkelompokkan data, serta menetapkan kebutuhan/ masalah klien
Penetapan Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan. :
Penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian (Gordon, dlm Carpenito, 1996)  : Masalah kesehatan aktual atau potensial yang mampu diatasi oleh perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya :
identifikasi atau penilaian terhadap pola respon klien baik aktual maupun potensial ( stuart dan Laraia, 2001)
Diagnosa keperawatan ditetapkan melalui tahapan :
1.      Analisa data yang ditemukan ( obyektif dan subyektif)
2.      Tetapkan rumusan diagnosa dalam bentuk rumusan diagnosis tunggal. Rumusannya : rumusan “Problem” etiologi tidak perlu dicantumkan tetap cukup dimengerti dan dipahami. Rumusan diagnosa keperawatan mengacu pada NANDA, 2005.
a.       Resiko perilaku kekerasan
b.      Gangguan sensori persepsi : halusinasi
c.       Isolasi sosial
d.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah
e.       Defisit perawatan diri
Kemampuan perawat dalam merumuskan diagnosa keperawatan :
1.      Kemampuan pengambilan keputusan yang logis.
2.      Pengetahuan tentang batasan adaptif atau ukuran normal
3.      Kemampuan memberikan justifikasi atau pembenaran
4.      Kepekaan sosial budaya Diagnosa yang aktual, mengancam jiwa dan dominan, menjadi diprioritas.
3.      Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari 3 aspek yaitu : tujuan umum, tujuan khusus, kriteria evaluasi dan rencana . Tujuan umum : hasil tindakan berupa kemampuan akhir yang hendak  tindakan keperawatan. Tujuan khusus : tujuan dicapai (jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai)  jangka pendek sampai dengan tujuan jangka panjang tercapai. Rumusan tujuan khusus berupa pernyataan kemampuan pasien mengatasi masalah.
Kriteria evaluasi : perubahan perilaku yang “observable” untuk setiap pencapai tujuan khusus. Bentuk rumusan : tanda dan gejala tercapainya masing-masing  Tindakan tujuan khusus  keperawatan: serangkaian tindakan yang harus dilaksanakan oleh perawat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap tujuan khusus dicapai dengan satu atau lebih tindakan keperawatan. Tindakan keperawatan durumuskan dalam bentuk kalimat perintah
Untuk menetapkan tujuan umum dan khusus, perawat perlu memiliki kemampuan
Rencana tindakan keperawatan berfikir kritis dan bekerja sama dengan klien dan keluarga
Merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus. Perawat dapat  Rencana tindakan keperawatan memberikan alasan ilmiah mengapa tindakan tersebut diberikan.  disusun berdasarkan standar asuhan keperawatan. Jiwa Indonesia (Depkes, 1995), berupa tindakan konseling, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri/ADL, tindakan kolaborasi.
4.      Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan. yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan. masih dibutuhkan dan sesuai dengan kondisi klien saat ini (here and now), menilai diri sendiri ( kemampuan interpersonal, intelektual dan teknikal untuk melaksanakan tindakan, menilai kembali apakah tindakan aman bagi pasien  pada saat akan melaksanakan : perawat membuat kontrak, menjelaskan apa yang akan klien  dikerjakan dan peran serta yang diharapkan dari klien, dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon klien
Hubungan. saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama dalam pelaksanaan tindakan keperawatan Tindakan keperawatan. mengacu pada perencanaan (NCP), bertujuan klien memiliki kemampuan : kognitif, afektif dan psikomotor untuk mengselesaikan masalah(diagnosa) yang dialami Strategi implementasi menggunakan SP, yang berprinsif setiap kali interaksi dengan pasien, out put interaksi haruslah samapi pada kemampuan koping pasien.
Implementasi tindakan keperawatan dilakukan berurutan secara prioritas, tapi tidak berarti sebelum masalah utma terselesaikan masalah lain tidak perlu ditangani. Selain tujuan tindakan keperawatan untuk merubah perilaku pasien, tujuan tindakan keperawatan yang lain adalah merubah perilaku keluarga. Tujuan utamanya, agar keluarga : Memahami masalah yang dialami pasien Mengetahui cara merawat pasien dapat mempraktekkan cara merawatan pasien, dapat memanfaatkan sumber yg tersedia untuk perawatan pasien
5.      Evaluasi Tindakan Keperawatan
Merupakan proses berkelanjutan dan dilakukan terus menerus untuk menilai efek dari tindakan keperawatan. yang  Evaluasi dibagi dua jenis :
a.       Evaluasi telah dilaksanakan.  proses (formatif), dilakukan setiap selesai melaks. tindakan keperawatan
b.      Evaluasi hasil (Sumatif), dilakukan dengan membandingkan respon klien dengan tujuan yang telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir.
S          :Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
O         : Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan.yang telah dilaksanakan
A           : Analisa terhadap data subjektif daan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih ada atau telah teratasi atau muncul masalah baru
P          : Perencanaan tindak lanjut berdasarkan hasil analisa respon klien
 Rencana tindak lanjut dapat berupa :
a.       Rencana teruskan jika masalah tidak berubah
b.      Rencana dimodifikasi jika masalah tetap ada dan semua rencana tindakan sudah dilakukan tetapi hasil belum memuaskan
c.       Rencana dan diagnosa keperawatan. dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada
d.      Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru.
Contoh kasus: Ani, dibawa keluarganya ke RS, karena sudah seminggu mengurung diri di kamar, tidak  mau bicara dengan orang lain dan sebelum dibawa ke RS marah-marah dan melempar barang tanpa sebab. Selama di RS, Ani selalu berada di tempat tidur atau duduk sendiri di pojok ruangan, kadang terlihat ngomel-ngomel, pakaian, badan dan rambut kotor dan bau. Dua hari kemudian setelah klien percaya dengan perawat, klien mengatakan bahwa ia malu dengan orang lain karena dirinya bodoh, jelek dan merasa hanya menyusahkan orang lain, tidak bisa membantu orang tua. Klien juga mengatakan mendengar suara-suara yang mengejeknya. Selama berinteraksi dengan perawat, klien menundukan wajahnya dan tidak pernah menatap mukanya.
























BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Proses keperawatan metode ilmiah dalam menjalankan asuhan keperawatan dan penyelesaian masalah secara sistimatis yang digunakan oleh perawat dan peserta didik keperawatan dapat meningkatkan otonomi; percaya diri; cara berpikir yang logis, ilmiah dan sistimatis;memperlihatkan tanggung jawab dan tanggung gugat serta pengembangan diri perawat. Disamping itu klien dapat merasakan mutu pelayanan keperawatan yang lebih baik dan berperan serta aktif dalam perawatan diri, serta terhindar dari malpraktek.
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian merefleksikan isi, proses dan informasi yang berhubungan dengan kondisi biologis, psikologis, sosial, dan spritual klien. Alat pengkajian dan petunjuk pengisian yang disediakan akan memudahkan perawat dalam pengumpulan data secara akurat dan sistimatik.
Diaknosa keperawatan didasarkan pada rumusan masalah/kebutuhan yang yang berpedoman pada rumusan penggolongan diaknosa NANDA. Hubungan permasalahan dan itiologi dipermudah dengan menggunakan pohon masalah. Rumusan diagnosa dibagi menjadi aktual, resiko tinggi dalam masalah kolaborasi.
Rencana tindakan keperawatan terdiri atas tujuan umum,tujuan khusus yang diikuti dengan serangkaian tindakan keperawatan untuk mencapainya. Untuk peserta didik perawat umumnya ditambahkan dengan kriteria hasil dan rasional tindakan.
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan dan kondisi klien saat itu serta kemampuan perawat yang akan melaksanakan tindakan.
Evaluasi keperawatan merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai dampak tindakan keperawatan pada klien yang dikaitkan dengan hasil yang diharapkan.
Kesan negatif terhadap proses keperawatan perlu dijadikan tantangan. Dengan upaya yang konsisten d alam menjalankan proses keperawatan diharapkan perawat akhirnya memahami dan membudayakan penggunaan proses keperawatan. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan program pelatihan dan supervisi langsung pada penerapan proses keperawatan jiwa dirumah sakit jiwa. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar