CINTA ITU "WALAUPUN" BUKAN "KARENA"

Sabtu, 12 Maret 2011

FILSAFAT ILMU


Bab I
KEDUDUKAN DAN PENDEKATAN
 FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

1.Kedudukan filsafat ilmu pengetahuan dalam sistematika filsafat
Untuk menerangkan kedudukan Filsafat lmu pengetahuan dalam seluruh konteks sistematika filsafat,ciri-ciri filsafat secara umum mempunyai ciri khas yang dapat dijelaskan,kalau objek formal filsafat ditentukan.Maka, dapat dikatakan bahwa objek formal adalah cara pendekatan pada suatu objek mateial yang sedemikian khas sehingga mencirikan,atau mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan,entah itu pengetahuan,agama ataupun kesenian,dan sebagainya.sedangkan dalam peristilahan yang berasal dari filsafat abad pertengahan barat,pokok bahasan yang tadi dirumuskan itu disebut sebagai objek material filsafat,artinya apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi).Objek material yang sama itu disoroti dari berbagai macam sudut,misalnya oleh fisika,kedokteran,sejarah,agama,sastra,seni rupa,dan lain sebagainya.
Ciri itu sudah sejak masa kuno-antara lain dalam filsafat yunani dipandang sebagai upaya mendalami dan mencapai sebab-musabab pertama (the first causes),ataupun sebab-musabab terakhir (the last causes).atau bahkan sebab-musabab terdalam dari objek materialnya,yaitu manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat.
Dengan demikian,Fisafat daat diberi batasan sebagai upaya dimana objek materialnya-yakni,manusia didunia yang mengembara menuju akhirat-dipelajari menurut sebab-musabab pertama.Begitulah pengertian filsafat sebagai keseluruhan.Dalam keseluruhan itu tak sulit bagi kita untuk membedakan bagian yang satu dari bagian lainnya,namun begitu tak berarti pembedaan tersebut merupakan suatu pemisahan.Bidang-bidang utama itu dapat ditunjuk dengan tiga kata yang sudah termuat dalam rumusan tentang objek material diatas,yaitu: manusia,dunia,akhirat.
Pada gilirannya,gejala pengetahuan itu dapat dilihat sebagai objek material filsafat pengetahuan,yang masih dapat dibagi lagi lebih lanjut menjadi filsafat pengetahuan secara umum yang mempelajari pokok-pokok bahasan umum seperti tadi disebut –filsafat ilmu pengetahuan yang mempelajari gejalai lmu-ilmu pengetahuan sebagai salah satu bidang pengetahuan khas menurut sebab-musabab terkhir.Untuk sementara waktu,kiranya cukup kalau kita ingat bahwa ”ilmu pengetahuan”dimengerti  sebagai pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaiannya dipertanggungjawabkan secara teoretis.Dan ilmu pengetahuan terbagi lagi menjadi ilmu-ilmu alam,pasti,dan kemanusiaan,demikiakn pun filsafat ilmu pengetahuan terbedakan menurut bidang ilmu pengetahuan yang disorotinya,sambil menyoroti juga hubungan ilmu-ilmu itu satu sama lain.

2.Pemahaman tentang Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
   a.Pendekatan Fenomenologis pada Gejala Pengetahuan
       ”Segala manusia ingin mengetahui”,demikianlah kalimat pembukaan karya Aristoteles,yang berjudul Metaphysica.tepatnya ungkaan itu dapat kita saksikan baik dalam diri manusia secara perorangan,semenjak kecil hingga usia lanju,maupun dalam sejarah perkembangan bangsa manusia semenjak zaman purbakala hingga dewasa ini.Dan secara perorangan maupun bersama,berlangsung dalam bentuk dasar berbeda yang sulit ditentukan mana kiranya yang paling ”asli”atau paling berharga dan paling manusiawi.Bentuk yang satu ialaha mengetahui demi mengetahui saja dan untuk menikmati pengetahuan itu demi memuaskan hati manusia.sedang bentuk lainnya ialah pengetahuan untuk digunakan dan diterapkan,misalnya untuk melindungi dan membela diri,memperbaiki tempat tinggal,mempermudah pekerjaannya,dan lain-lain.
Apabila gejala pengetahuan dalam kedua bentuk dasariahnya itu kita dekati secara fenomenologis,kiranya menjadi jelas bahwa mustahillah dalam gejala itu kita bedakan secara tegas sipengenal dari yang dikenal.Yang satu (entah dalam bentuk si pengenal,atau dalam bentuk yang dikenal)tidak ernah ada tanpa yang lain,demikian pula sebaliknya.Kedua-duanya merupakan kesatuan asasi.
Dalam filsafat manusia kita jumpai pegertian manusia sebagai kesatuan jiwa raga dalam hubungan timbal balikdenga dunia dan sesamanya.didalam kesatuan itu ada  unsur jasmani yang membuat manusia sama dengan dunia diluar dirinya,dan ada unsur lain yang membuat manusia mengatasi dunia disekiar serta dirinya sebagai jasmani.
Pembicaraan terakhir ini dapat diringkas sebagai berikut:manusia merupakan suatu kesatuan jiwa-raga yang sifat jiwanya rohani.Itulah transendensi pengetahuan manusia dibandingkan dengan pengetahuan bukan manusia.Hasil dari tinjauan kita tenang gejala pengetahuan manusia secara umum kiranya dapa diringkas dalam suatu pernyataan padat yang memuat segala unsur yang elah kia soroti:
      Kesatuan asasi anara subjek dan objek dalam gejala pengetahuan manusia menjadi nampak dalam pengarahan bawaan manusia untak bertanya dan mencari tentang dirinya didunia serta tentang dunia itu sendiri.Pertanyaan iu tiada batasnya,dan setiap jawaban dan menimbulkan pertanyaan lebih menyeluruh lagi.pengetahuan manusia itu terjadi sesuai dengan susunan kesatuan jiw- raganya yang bersifat rohani.Bentuk pengetahuan yang konkret mauun abstrak,partikulamaupun universa,menjelma dalam bahasa.Bahasa itu sendiri menunjukkan bahwa manusia memasyarakat dan menyejarah dalam tradisi pengetahuan.

  b.Pendekatan Fenomenologis pada Gejala Ilmu Pengetahuan
     Guna menerapkan kekhususan ilmu pengetahuann dibandingkan dengan pengetahuan pada umumnya,kia bertitik pangkal pada gjala”kesadaran akan pengeahuan”yang erdapat dalam setiap tindakan pengetahuan itu sendiri secara tersirat.apabila unsur tersirat itu diucapkan menjadi tersurat,maka terjadilah apa yang disebut refleksi.Berkat refleksi,pengetahuan yang semula langsung dan spontan,memang kehilangan kelangsungan dan spontanitasnya,teapi serentak pengetahuan itu mulai cocok untuk diatur secara sistematis sedemikian rupa sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan.
      Dalam upaya setiap ilmu untuk menyusun beberapa model,Model yang dimaksud sebagai penghadiran kembali yang padat dan ringkas dari apa yang sudah dikumulkan dalam pengetahuan umum maupun ilmiah.ada dua model yang pada dasarnya saling melengkapi,yaitu:
         1.Manusia semakin mendekati apa yang merupakan objek pengetahuan ilmiah ataupun mau menarik objek itu kepadanya.Agar pendekatan sering berhasil,si ilmuwan membuat suatu model lahir dan nyata.
         2.Manusia mau semakin mengerti apa yang merupakan objek ilmiah,seolah-olah hendak memasuki susunan objek yang sedang dipelajari itu sedalam-dalamnya.
Kedua macam model itu sebaiknya kita tinjau lebih lengkap lagi,karena mewakili dua kelompok ilmu atau dua cara berilmu.Model pertama mewakili kelompok ilmu yang pertama-tama mementingkan pengamatan dan penelitian,yang disebut empiris(”empirical”dari kata yunani,yang berarti ”meraba-raba”),atau aposteriori (dari kaa latin ”post”:”sesudah”,karena segala ungkapan ilmu-ilmu bersangkutan baru terjadi sesudah pengamatan).Model kedua mewakili kelompok ilmu yang seakan-akan ingin segera menangkap susunan keniscayaan (structure of necessity).yang mendasari segala kenyataan secara apriori (dari kata lain prius:”sebelum”,karena ilmu-ilmu ini ingin manentukan apa kiranya yang mendahului adanya segala kenyataanitu).Kedua macam model ilmu tersebut dapat diterangkan dengan mengutip pandangan tentang ilmu yang berasal dari  yunani purba,yaitu dari Plato dan Aristoteles.
Peembicaraan kitaa mengenai ilmu pengetahuan dapat diringkas dlam pernyataan berikut:
      Ilmu pengetahuan dicirikan sebagai usaha untuk mengumpulkan hasil pengetahuan secara teratur da sismatis,berkat adanya refleksi.Pengungkapan hasil itu ter jadi dalam macam-macam model,yang dapa digolongkan menjadi dua model dasa, yaitu model aposteriori dan model apriori.Model apriori sudah dirinis Pluto,sedangkan Aristoteles mengutrakan suatu model ilmu dimana sebagai hasil pemeriksaanaposteriori diperoleh suatu ”Pengetahuan melalui sebab-musabab”,yang faham apriorinya menjadi ciri khas ilmu.

3.Filsafat Pengetahuan dan FilsafatIlmu Pengetahuan
   Filsafat pengetahuan maupun filsafat ilmu ilmu pengetahuan merupakan suatu episteme paling utama sesuai dengan faham Aristoteles.Filsafat pengetahuan memeriksa sebab-musabab itu dengan bertitik tolak ada gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.Filsafat ini menggali faham tentang ”kebenaran”,”kepastan”,dan tahap-tahapnya,”objektivtas”,”abstraksi”,”intuasi”,dan uga mengenai”dariana asalnya dan kemanakah arah pengetahuannya”.Dengan kata lain,cara kerja atau metode ilmu engetahuanlah yang menjadi ciriilmu,kalau dibandingkan dengan pengetahuan sehari-hari.























Bagian Pertama
Cara Kerja Ilmu Pengetahuan
dan Filsafat

Bab II
BEBERAPA ASAS LOGIKA

      Secara berturut-turut kia akan melihat ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu pasti.Yang akan kita bahas ialah cara kerja dalam masing-masing kelompok ilmu.Cara kerja aposteriori ilmu-ilmu empiris sering diberi nama ”induksi”*(cara kerja ”induktif”),sedangkan cara kerja apriori ilmu-ilmu pasti biasanya diberi nama deduksi (cara kerja deduktif)Dalam logika,kita menjumpai bahwa deduksi diberi batasan sebagai sebagai penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih sempit daripada wilayah premisnya,sedangkan induksi adalah penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih luas daripada wilayah premisnya.
      Sebelum tinjauan ini kita lakukan,erlebih dahulu kita akan meninjau beberapa asas logika.Dalam tinjauan itu,melalui logika proposisi modern,pertama-tama kita akan melihat ciri khas dan kedudukan hukum logis.Setelah itu kita meninjau beberapa asas dan hukum logika sederhana mengenai penyimpulan(silogisme,syllogism)berdasarkanurusan bersyarat(hipotesis,hypothetical judgment).
      
1.Ciri Khas Hukum Logika
     Sebagai catatan,fasal ini dimaksudkan unuk menunjukkan kdudukan hukum logis dalam suatu sistem logika proposisi modern.Logika roposisi bertitik pangkal adaadanya proposisi(proposition,sentence),yaitu suatu ungkapan yang berdiri sendiri ,atau dapat ditegaskan pada dirinya sendiri,dalam suatu sistem S.Yang dimaksud dengan proposisi dalam logika formal modern ialah suatu ungkapan yang tidak mengandung ”arti”,namun merupakan suatu variabel.
       Selain proposisi variabel itu,yang ditandai dengan cara tertentu,ada juga tanda untuk menyatakan sesuatu,yang disebut konstan.Konstan punya arti tetap dalam suatu sistem S.Yang ditandai dengan konstan-konstan itu ialah suatu operasi tertentu mengenai satu atau lebih proposisi variabel itu.Umpamanya penggabungan,pemisahan,dan lain sebagainya.Logika yang didasarkan pada pengandaian itu dinamakan logika dwinilai(two valued logic),karena mempunyai dua nilai saja.Ada jenis logika lainnya,umpamanya logika trinilai yang menganut adanya tiga nilai kebenarandan seterusnyahingga logika n-nlai yang memriksa ciri khas hubungan proposisi satu sama lain dalam pengandaian adanya n nilai.
        
2.Silogisme Hipotesis
     Silogisme hipotesis terdiri dari suatu putusan bersayarat sebagai ”mayor”dalam bentuk ”apabila p maka q”(”p”dan ”q”adalah dua proposisi),lalu suatu ”minor”yang dapat terjadi dalam empat bentuk,dan akhirnya kesimpulan.





Bab III
CARA KERJA ILMU-ILMU
EMPIRIS -”INDUKSI”

      Fasal ini terdiri dari dua bagian:lebih dahulu kita akan melihat dan memeriksa cara kerja ilmu-ilmu alam,termasuk salah satu conoh dari bidang ilmu kedokteran.Selanjutnya kita akan memeriksa cara kerja ilmu-ilmu kemanusiaan,ilmu-ilmu sosial.

1.Cara Kerja Ilmu-Ilmu Alam
      Berturut-turut kita akan memeriksa tiga contoh proses yang terdiri dari langkah-langkah pengamatan,percobaan,dan penemuan:dalam bidang ilmu alam dengan diadakannya percobaan-percobaan,dalam bidang ilmu falak tanpa percobaan,dan dalam bidang kedokteran.
       Ketiga contoh itu akan kita periksa dalam rangka  sejarah penemuannya (context of discovery),dan dalam rangka upaya pembenarannya (context of justification).setelah itu kita akan meninjau peranan dan terjadinya hukum-hukum alam (physical laws),dan teori-teori ilmiah(scientifict theories).
 a.Beberapa Peristiwa dari sejarah ilmu pengetahuan
-   Tekanan Udara dan Pengukuran
-   Ilmu Falak dan sistem Matahari
-   Gerakan Planet-Planet menurut epicycle
-   Ilmu kedokteran
 b.Refleksi Atas Peristiwa-peristiwa : dari Pengamatan Menuju Hipotesa
-   Hipotesa Diperluas
-   Hipotesa Dirinci dan Dimurnikan
-   Bertambahnya Jumlah Implikasi yang Terjadi
-   Implikasi yang Diturunkan secara Apriori
-   Tertundanya Pengamatan Implikasi Apriori
      Cara kerja ilmu-ilmu alam berdasarkan pengamatan,penelitian dan percobaan-percobaan.Upaya ilmu ialah mengemukakan hipotesa-hipotesa yang implikasi-implikasinya cocok dengan data-data empiris.Data-data empiris itu dapat mengalahkan suatu hipotesa,dapat juga menjadi alas an untuk menyempurnakan hipotesa,namun tidak pernah dapat dipakai                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   dipakai untuk membuktikan secara tuntas berlakunya suatu hipotesa.
c. Ciri-ciri Hukum Alam : Dari Hipotesa Menuju Hukum-hukum alam
      Tahap berikutnya dalam pembentukan ilmu ialah perumusan hukum-hukum (scientific laws,natural laws).Dibandingkan  dengan hipotesa,hokum punya tiga ciri khas yang melebihi ciri-ciri hipotesa,yaitu bahwa hukum itu lebih pasti ,lebih berlaku umum ,dan punya daya terang lebih kuat.Dan sama seperti hipotesa,hkum pun perlu bersifat empiris.
-   Penjelasan Deduktif –Nomologis
-   Hukum Alam dan Generalisasi
-   Perhitungan yang Bersifat Barangkali
-   Penyimpulan yang Bersifat Barangkali
-   Bidang Berlakunya Hukum yang Bersifat Barangkali
 d.Dari Hukum Alam Menuju Teori Ilmiah
-   Bagan penjelasan Teoretis
-   Teori-teori yang Bertentangan Satu Sama Lain
-   Apa yang Dimaksud Dengan Daya Terang Suatu Teori-teori
-   Kesementaraan dan Anggapan Tentang Asal-Usul Hipotesa,Hukum dan Teori Ilmiah

2.Cara Kerja Ilmu-ilmu Kemanusiaan
 a.Muncul dan Berkembangya ilmu-ilmu kemanusiaan
Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu kemanusiaan(human science)-disini juga sekaligus mencakup ilmu-ilmu sosial(social science)-adalah ilmu-ilmu pengetahuan empiris yamg mempelajari manusia dalam segala aspek hidupnya:ciri-ciri khasnya,tingkah lakunya baik perorangan maupun bersama,dalam lingkup kecil maupun besar,dan banyak aspek lainnya.
Berbeda dari ilmu-ilmu alam,ilmu kemanusiaan –dalam arti mencari hukum-hukum yang berlaku secara empiris baik dalam hidup manusia perorangan maupun dalam hidup memasyarakat-belumlah berumur tua.secara kasar dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu ini baru muncul pada abad ke-19,kendati akar-akarnya sudah bisa kita jumpai dalam masa kuno.
 b.Ciri-ciri khas Ilmu-ilmu Kemanusiaan
     Kendati dewasa ini kekhasan ilmu-ilmu kemanusiaan sudah makin disadari,berdasarkan langkah-langkah pengamatan,penelitian serta percobaan empiris,ilmu-ilmu kemanusiaan berusaha mengembangkan hipotesa,hokum dan teori ilmiah menurut irama yang mirip dengan irama ilmu alam.Lalu,ciri khas ilmu-ilmu kemanusiaan sebenarnya dimana,dan mana perbedaannya yang esensial dengan ilmu-ilmu alam?
-   Manusia sebagai Objek dan Subjek Ilmu
-   Titik Pangkal dan kriterium Kebenaran
-   Subjek dan Objek saling mempengaruhi
-   Ilmu sejarah
























Bab IV
CARA KERJA
ILMU-ILMU PASTI-DEDUKSI

     Ciri khas cara kerja deduktif sudah kita singgung dalam bab I,sedangkan model pengetahuan apriori sudah kita lihat dalam kesempatanperkenalan fenomomenolgis dengan gejala ilmu pengetahuan.

1.Awal Mula Ilmu-ilmu Pasti
     Awal mula ilmu-ilmu pasti berhubungan erat dengan kebutuhan praktis,dan pengamatan empiris.Dengan kebutuhan praktis dimaksudkan kebutuhan pengukuran,yang memang tidak dapat dipisahkan dari upaya manusia mengatasi kendala-kendala hidupnya.
Sedang dengan pengamatan empiris dimaksudkan,umpamanya dalam kaitan dengan ilmu falak,penanggalan,dan perhitungan tahun sehubungan dengan agama,dan juga dalam rangka upaya mengarungi samudera.

 2.Bidang-bidang yang Pernah Dicakup Ilmu Pasti
 a.Bidang-bidang klasik:Ilmu Ukur dan Ilmu Hitung
b.Musik dan Ilmu Falak
c.Kogika Sebagai Ilmu Pasti
d.Septem Artes Liberales

 3.Ilmu-ilmu Pasti pada Masa Klasiknya
     Ciri-ciri ilmu pasti pertama kalinya dilihat sebagai suatu keseluruhan oleh Descartes.Dalam Discours de la Methode diceritakannya bagainama semenjak anak-anak ia mengagumi ciri-ciri ilmu pasti.ia ingin sekali memperbaharui segala bidang pengetahuan manusia berdasarkan ilmu-ilmu itu,khususnya dengan menggunakan cara kerja ilmu pasti.
Berikut ini kita lihat ciri-ciri ilmu pasti klasik secara ringkas.Dalam rangka sejarah penemuan (context of discovery)dalil-dalil ilmu pasti,seakan-akan berdasarkan suatu ilham sang ilmuwan tahu bahwa kebenaran atau keberlakuan salah satu rumus atau gagasannya dapat dibuktikan .Ciri lain yang sudah pasti tetapi belum dijelaskan ialah bahwa berbeda dari ilmu-ilmu empiris yang bersifat konkret,ilmu-ilmu pasti bersifat abstrak,justru karena tidak berdasarkan pengalaman empiris yang konkret itu.

4.Kenisbian Sistem Ilmu Pasti

5.Penyelidikan Modern tentang Dasar-dasar Ilmu Pasti

6.Susunan Matematika dan Logika Modern
     Setiap ilmu pasti,termasuk logika,berasal dari salah satu teori.Dalam rangka itu sistem bersangkutan bertitik pangkal pada sejumlah paham dasar,aksioma,dan patokan kerja yang tak bertentangan satu sama lain,dan tanpa ada unsur yang berlebihan atau tergantung pada yang lainnya.Paham dasar,aksioma,dan patokan tersebut ditentukan secara aprioritanpa dipengaruhi pengamatan dam pengalaman aposteriori.Jumlah sistem itu tak terbatas .setiap sistem ilmu pasti dapat menentukan konstruksi isinya secara tepat,etat dan pasti,dan dalam konstruksi itu dapat maju secara tak terhingga.tafsiran mengenai paham dasar,aksioma,patokan kerja,dan dalil-dalil yang dihasilkan tidak dianggap relevan oleh para ilmuwan Karena tidak termasuk bidang ilmu itu sendiri.

























Bab V
CARA KERJA FILSAFAT
DAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

 1.Cara Kerja Filsafat Secara Umum
      Cara kerja filsafat menurut anggapan lingkungan yunani,kemudian menurut cara kerja filsafat menurut anggapan lingkungan Yunani,kemudian menurut cara kerja skolastik dalam lingkungan yahudi,Kristiani maupun islam sampai akhir abad pertengahan,dan akhirnya cara kerja filsafat barat modern.Sebaiknya diperhatikan bahwa selama kurang lebih 2500 tahun itu minat dan tekanan penelitian filsafat silih berganti dilentakkan pada objek dan subjek penlitian itu.
a.Dalam Masa Yunani Purba
   Para filsuf prasokrates ingin menemukan  apa yang kiranya merupakan asas (arkhe,principium,principle) dari semua gejala yang yang diamati dan dialami manusia.Gejala-gejala itu merupakan itik pangkal upaya mereka.Dari sana mereka mau menuju asas yang tak kelihatan,yang selalu dianggap sebagai sesuatu yang objektif.Asas itu ada yang diberi nama seperti air,udara,dan ”yang tak terselami”,”Keteraturan ”,”yang tetap dan tidak berubah”,ataupun ”yang senantiasa berubah”.
b.Dalam Lingkungan Yahudi,Kristiani dan Islam Sampai Masa Skolastik
      Sudah dalam dunia kebudayaan Yunani purba dan sekitar ada suatu lingkungan tersendiri yang didasarkan pada iman kepada Allah Yang Maha Esa.Itulah limgkungan Yahudi,dan dikemudian hari disusul lingkungan Kristiani dan Islam.ketiganya berciri monoteisme.
      Sampai waktu itu filsafat Yunani kuno sudah dua kali ,mengalami komfrontasi lendalam dengan agama.Yang pertama sejak masa prasokrates dan terutama sokrates yang dituduh menghancurkan agama,karena menolak adanya dewa-dewi mitologi Yunani.yang kedua dalam rangka neoplatonisme dengan gaya mistiknya yang berhaluan panteistik.
c.Selama Masa Modern
      Sehubungan dengan cara kerja filsafat,seluruh masa modern di dunia barat ditandaioleh dua ciri utama.yang pertama ialah bahwa filsafat semkin berdiri sendiri,dalam arti bahwa kebanyakan filsuf-entah beriman,entah tidak beriman-tidak mempedulikan adanya teologi berdasarkan iman.Ciri kedua ialah pembelokan kearah subjek pengetahuan,yang telah dirintis Descartes.Kedua ciri khas itu dapat menerangkan apa sebabnya selama masa modern itu ribuan filsuf dan ratusan sistem bermunculan bagai jamur pada musim hujan.

2.Apakah Ada Satu Cara Kerja Filsafat?
      Cara kerja filsafat yang dipilih disini adalah cara kerja filsafat terbuka akan segala gejala yang muncul dalam hidup manusia dewasa ini dan yang tidak berat sebelah memihak pada pengalaman subjektif semata atau pada kenyataan yang dianggap semata-mata objektif.Secara historis,cara berfilsafat ini sebenarnya bisa kita telurusi pada tradisi kuno yang sudah muncul sejak masa Sokrates dan Aristoteles.Lewat banyak pengaruh luar,tradisi itu tampil dalam filsafat skolastik Abad perengahan Barat,dan akhirnya sampai kea bad ke-20 ini lewat Kant dan Husserl.
      Oleh karena mementingkan sikap terbuka dan tidak memihak,cara ini tidak mencekik melainkan justru menghidupi dan membuka akal serta batin manusia didunianya,serta dapat berkembang ilmu-ilmu sehingga mampu berdialog dengan ilmu-ilmu tersebut.

3.Cara Kerja Fisafat Ilmu Pengetahuan
     Filsafat ilmu pengetahuan mempunyai wilayah lebih luas dan perhatian lebih transenden daripada ilmu-ilmu pengetahuan itu.Maka dari itu,filsafat ilmu pengetahuan pun mempunyai wilayah lebih luas daripada penyelidikan tentang cara kerja ilmu-ilmu.
      Filsafat ilmu pengetahuan bertugas untuk meniliti dan menggali sebab-musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan.Diantaranya paham tentang kepastian,kebenaran,dan objektivitas.Cara kerjanya sesuai dengan cara kerja filsafat tersebut diatas,yaitu bertitik pangkal pada gejala ilmu-ilmu pengetahuan,mengadakan reduksi kearah intuisi yang ada dalam ilmu-ilmu pengetahuan (dan para ilmuwan),sehingga kegiatan ilmu-ilmu dalam pelaksanaannya dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing.


















BAGIAN KEDUA
SEKITAR KEPASTIAN DAN
KEBENARAN PENGETAHUAN

Bab VI
TARAF-TARAF KEPASTIAN –
SUBJEKTIVITAS DAN OBJEKTIVITAS

      Arti istilah pengetahuan pun sudah dijelaskan tanpa batasan ataupun definisi yang jelas,sebab gejala pengatahuan dialami manusia sebagai suatu unsur dasariah dalam hidupnya sebagai manusia.Kesadaran subjek pengenal tentang objek yang dikenalnya disebut pengetahuan,dimana terang terjadi dari pihak subjek,yang dapat membedakan objek dalam dalam hubungan dengan dirinya.Dalam keseluruhan proses pengetahuan itu dapat dibedakan-tanpa dapat dipisahkan-dua hal,yaitu evidensi dan kepastian.Kedua hal ini merupakan ciri-ciri gejala pengetahuan yang sekaligus merangkum baik si subjek pengenal maupun objek yang dukenal.

 1.Taraf-taraf Kepastian dalam Ilmu Empiris dan Ilmu Pasti
     Deretan taraf kepastian,kebarangkalian,kesementaraan,dan kesesatan sudah sedikit disinggung didepan.sudah kita lihat,kepastian merupakan ciri pengetahuan.sedang mengenai kebarangkalian,harus diakui bahwa istilah itu justru digunakan oleh para ilmuwan untuk menunjukkan sesuatu yang dalam gejala pengetahuan terletak pada pihak objek.Untuk mencegah kesulitan ini,disini diperkenalkan istilah kepercayaan(credibility).
 a.Dalam Ilmu-ilmu Empiris
      Ilmu empiris  adalah ilmu yang termasuk dalam ilmu-ilmu kemanusiaan,mengejar kepastian dalam dua arti.Pertama,kepastian tentang explanans gejala-gejala yang diselidiki,lalu juga kepastia mengenai kesimpulan yang dapat ditarik dari suatu hokum yang berlaku.Maka,Menurut peristilahan yang telah digunakan sehubungan dengan bagan deduktif-nomolgis,dapat dikatakan dari bawah keatas maupun dari atas kebawah.Akan tetapi, yang tercapai hanyalah suatu taraf keterpercayaan yang berdasarkan pengamatan empiris-tak pernah mencapai nilai 1.Bahkan,kendati hipotesa dan hukum sangat terpercay,keduanya harus tetap terbuka untuk dibuktikan salah.Maka,keduanya pun bersifat sementara.
b.Dalam Ilmu-ilmu pasti
      Dapat dikatakan bahwa dalam konteks penemuan(context of discovery),sebagai ungkapan mengenai usaha coba-coba,dan rumus (31)berlaku dalam konteks dimana imu –ilmu itu belum  pasti.
      Namun, dalam konteks pembenaran (context of justification) dari salah satu sistem matematikaatau logika yang sudah jadi dan berdiri sendiri,tidak ada hipotesa lagi,melainkan hanya ungkapan-ungkapan yang bersifat aksiomatis dan dalil-dalil,yang semuanya tanpa kecuali,tidak bisa lain selain bernilai 1.

2.Refleksi dan Evaluasi Filsafat Atas Data-data Itu
     Dalam abad ke-20 ini,pokok perhatian filsafat dan ilmu-ilmu memang sering diarahkan kembali lagi pada ”benda pada dirinya sendiri”(Husserl)dan dalam bidang ilmu-ilmu alam dilakukan penyelidikan atas dasar-dasar ilmu (founddationak research),antara lain persoalan mengenai materi itu sebenarnya apa.Perhatian ini mirip dengan masa purba dan abad pertengahan,dan juga dengan karya Descartes..Namun,penyelidikan modern itu masih berada pada tahap teoretis.Dengan begitu,penyelidikan itu berpusat pada subjek lagi.Selain itu,ajakan Husserl mengenai ”kembalilah pada benda-benda itu sendiri” menunjukkan kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap susunan benda-benda.

























Bab VII
ADA TIDAKNYA
KEBENARAN-KEBENARAN ITU APA?

      Sepanjang sejarah filsafat kerapkali pula muncul masalah mengenai ada tidaknya kebenaran maupun mengenai apa itu kebenaran.Tetapi kalau kita menekiti sejarah ilmu-ilmu melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri,pendekatan pada masalah sekitar gejala kebenaran makin menimbulkan soal-soal khusus dalam ilmu-ilmu enpiris dan ilmu pasti.

1.Paham tentang ”Benar”dan”Tepat”dalam Ilmu-ilmu
     Sudah semenjak masa purba,antara lain Aristoteles,diadakan pembedaan antara hasil pengetahuan yang benar dari pengetahuan sendiri,sedangkan ”tepat”berkenaan dengan jalan yang ditempuh untuk mencapai pengetahuan yang dianngap benar itu,maka menyangkut cara kerja.
 a.Dalam Ilmu-ilmu Empiris
      Dalam  tiga arti cara kerja ilmu-ilmu empiris dapat dikatakan tepat.Pertama,tepatnya cara kerja penemuan,baik dalam proses terjadinya ilmu –ilmu maupun dalam penyampaian hasilnya secara didaktis,yaitu dari bawah keatas(”induksi”).Kedua,tepatnya cara kerja dalam penerapan hasil ilmu,yaitu dari atas kebawah(deduksi).ketiga,hanya untuk ilmu-ilmu kemanusiaan:tepatnya kesadaran akan hubungan timbal balik antara subjek pengetahuan dengan objeknya,yakni pendekatan khusus subjek pada objeknya.
 b.Dalam Ilmu-ilmu Pasti
      Benar tidaknya suatu sistem atau suatu langkah dalam sistem tertentu ialah masalah yang berasal dari category mistake seperti misalnya kalau saya bertanya apakah kimia itu hijau atau merah.

2.Refleksi Filsafat Atas Ada Tidaknya kebenaran
      Masalah sekitar ada tidaknya kebenaran merupakan masalah pokok filsafat pengetahuan,maka akan meliputi bidang lebih luas daripada apa yang telah disinggung berkenaan dengan paham tentang kebenaran menurut anggapan yang muncul dalam rangka ilnu pengetahuan .Berdasarkan pemandangan ringkas atas sejarah filsafat mengenai kebenaran,kita akan berusaha merumuska apaitu kebenaran,lalu pemandangan ringkas akan paham tentang kebenaran akan kita terapkan pada anggapan-anggapan yang sudahdikemukakan.akhirnya akan kita tarik kesimpulan umum tentang kedudukaan kebenaran.
 a.Pokok-pokok Sejarah Filsafat
b.Apa Itu Kebenaran?
 c.Penilaian Filsafat Atas Kebenaran Ilmu-ilmu
 d.Kesimpulan Umum Tentang Kedudukan Kebenaran








Bagian Ketiga
Anggapan-anggapan Pokok
Filsafat Ilmu Pengetahuan
Selama Masa Modern

Bab VIII
PERKEMBANGAN SAMPAI
DENGAN ABAD KE-19

1.Francis Bacon (1561-1626)
 a.Riwayat Hidup dan Karyanya
     Bacon lahir dikota London,setelah belajar diCambridge,selama dua tahun ia diberi tugas pada kedutaan besar Inggris di Paris.kemudian ia masuk dalam bidang praktek hukum dan menjadi anggota parlemen pada tahun 1584.umur 57 tahun dia diangkat menjadi Lord Chacellor dan diberi pangkat kebangsawanan sebagai Baron de Verulam.Adapun karyanya,The Advancement of Learning(1606),dan disadur pada tahun 1623 dengan judul De dignitate et augmentis scientiarum(tentang perkembangan Luhur Ilmu-ilmu)sebagai bagian pertama dari suatu karya raksasa yang direncanakannya namun tak pernah diselesaikannya yang berjudul umum Instauratio magna(Pembaharuan Besar).dan masih banyak lagi judul dari karya Bacon.
 b.Ciri Umum Karya Bacon
      Bacon berdiri pada ambang pintu masuk jaman modern yang dicirikan oleh tekhni yang dihasilkan ilmu-ilmu alam.
c.Penilaian Singkat
      Bacon mengemukakan pandangannya yang pada waktu itu istlah yang sesuai denagan maksudnya pu belum tersedia,maka terpaksalah ia memakai banyak istilah teknis dari Aristoteles,namun dengan perubahan arti yang cukup mendalam.Umpamanya istilah ”filsafat”,”metafisika”,keempat ”seba”ciptaan Aristoteles.

2. Hume dan Kant
      Tentu saja David Hume dan Immanuel Kant jangan digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan ,karena lingkup karya dan filsafat mereka jauh melebihi bidng filsafat ilmu pengetahuan. 

 3.John Stuart Mill (1806-1873)
a.Riwayat Hidup dan Karyanya
       Mill lahir dikota London.Ayahnya,James Mill(1773-1836),adalah seorang ternama dalam aliran utilitarianisme Ciptaan Jeremy Bentham (1748-1832).salah satu dari karya Mill adalah A system Of Logic.
b.Ajaran Mill tentang Logika Ilmu-ilmu
- Problematika Induksi Menurut Mill
- Pembenaran Proses Induksi
- Cara Kerja Ikduksi
 c.Beberapa Tokoh dan Aliran Sehubungan dengan Mill
      Tokoh yang yang sehubungan dengan Mill adalah:
·   William Whewell(1794-1866)karyanya antara lain History of the Inductive Science (1837)dan  Philosophy of the Inductive Science(1840)
·   Auguste Comte(1798-1857)ia menjadi bapak sosiologi maupun bapak aliran postivisme.
·   Jules Lachelier(1832-1918)karyanya antara lain Du fondement de l’induction(1871,Dasar induksi)



























Bab IX
ANGGAPAN-ANGGAPAN POKOK
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
 PADA ABAD KE-20

1.Lingkaran Wina
 a.Latar Belakangnya
Lingkaran Wina(dalam bahasa jerman:Wiener Kreis,atauVienna Circle dalam bahasa Inggris)adalah suatu kelompok yang terdiri dari sarjana-sarjana ilmu-ilmu pasti dan alam di Wina,ibukota Austria.Mereka mendapat pengaruh dari tiga arah.Pertama,dari empirisme dan positvisme,terutama Hum,Mikk,dan Ernst Mach(1838-1916).kedua,dri metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh para ilmuwan semenjak abad ke-9,misalnya:Helmholtz,Mach,Poincare,Duhem,Boltzman,danEinstein.Ketiga,perkembangan logika simbolik dan analisa logis yang dikembangkan terutama oleh Frege,Whitchead dan Russell,serta Witt genstein.
 b.Pokok-pokok Pemikiran
      Pandangan yang dikembangkan oleh lingkaran Wina disebut neopositivisme,atau kerap dinamakan positivisme logis ataupun empirisme logis ataupun empirisme logis.pandangan mereka amat bervariasi.secara umum mereka berpendapat bahwa hanya ada satu sumber pengalaman saja,yaitu pengalaman.  

2.Karl Raimund Popper
 a.Riwayat Hidup dan karyanya
      Popper lahir dikota Wina pada tahun 1902.ia belajar ilmu alam pada universitas,lalu menjadi guru SMA,sekaligus ia besar akan filsafat.
      Karya dasarnya Logik de forsschung (1934)diterjemahkan  menjadi The Logic of Scientific Discovery (1959).Selama pengungsiannya di Selandia Baru,ia mengarang The open Society and its Enemies,I dan II (1945) kemudian The Poverty of Historicism(1957)dimaksudkan sebagai teori dibelakang The Open Society.
 b.Pokok-pokok pemikiran Popper
·   Dasar logis cara kerja ilmu Empiris
·   Berguna pada sejarah ilmu-ilmu
·   Pandangan Popper tentang dunia tiga

3.Filsafat Ilmu Baru
     Latar Belakangnya
      Sekitar dua atau tiga dasawarsa terakhir ini,terlihatlah perkembangan baru dalam filsafat ilmu pengetahuan.Perkembangan itu sebenarnya merupakan upaya pendobrakan atas filsafat ilmu pengetahuan yang telah bercokol sebelumnya.Bandingkan dengan positivisme logis dan pandangannya tentang filsafat ilmu.Tokoh-tokoh filsafat ilmu baru ini antara lain Thomas S.Kuhn,Paul Feyerabend,N.R.Hanson,Robert Palter,dan StephenToulmin,serta Imre Lakatos.
      Sejarah ilmu sebenarnya merupakan disiplin ilmu yang relatif masih baru.dalam beberapa merupakan disiplin ilmu yang relatif masih baru.pada awal perkembangannya bidang ini ditangani oleh ahli-ahli dari bidang ilmu lannya,seperti  ahli fisika umpamanya.dalam beberaa dasawarsa belakangan bidang ini ditangani secara khusus oleh orang-orang yang memang mengkhususkan diri dalam bidang ini.Perubahan ini mengakibatkan perkembangan pesat dalam kualitas ilmiah disiplin ini.Sejarah ilmu yang semula praktis menjadi seacam upaya untuk melihat urutan kronologis prestasi-prestasi ilmiah individual menjadi semakin ketat,teliti,dan dengan demikian semakin menemukan banyak fakta sejarah dalam perkembangan ilmu yang ternyata berperanan besar,namun sebelumnya tak terlihat sedikitpun.Penemuan-penemuan iitu meruntuhkan berbagai mitos ilmiahyang terbentuk sebelumnya.

4.Pembahruan Epistemologis dalam Ilmu-ilmu Sosial-Historis
a.InstitutPenyelidikan Sosial Frankfurt
Latar Belakang
      Semenjak pertengahan abad ke-19 perhatian akan ilmu-ilmu empiris tentang manusia cukup meningkat.Dengan menunjukkan fisika sosial sebagai puncak perkembangan ilmu-ilmu menurut pandangan positivismenya,Comte menjadi pendiri sosiologi gaya positivsme itu,yang kemudian disusul antara lain oleh Durkheim dan Levy-Bruhl.Tetapi pembaharuan mendalam berasal dari Dilthey yang melihat bahwa kedudukan khusus ilmu-ilmu itu(cultural-historical sciences)menuntut suatu cara kerja yang sesuai dengan objek yang berkedudukan khusus.itu.Perkembangan cara kerja metafisis antara lain juga dipengaruhi oleh psikologi sebagai ilmu baru tentang manusia.Dalam rangka psikologi,disaming aliran behaviorisme yang berhaluan determinisme,muncullah psikologi Gestalt dan psikologi dalam.Disamping Sigmund Freud,perlu disebut Alfred B.Adler(1870-1937)dan Carl Gustav Jung(1875-1961),dan diperbatasan antara psikologi dengan filsafat dapat disebut Frederik J.J.Buytendijk(1887-1974)dan Jean Piaget(1896-1980).Akhirnya mengenai bidang sosiologi,nama Max Weber perlu disebut lagi sebagai salah seorang pengilham dalam perdebatan,bahkan dapat diakatakan sebagai pertentangan,mengenai metode(Methodenstreit)yang terjadi sekitar tahun1900.
Pokok-pokok Pemikiran
      Kritik mereka terarah kepada masyarakat merupakan hasil perkembangan ilmu-ilmu alam dan industri mutakhir.salah satu akibatnyaialah bahwa manusia diasingkan(is alienated)dari dirinya sendiri.Alienas disini diartikan secara berbeda dari peristilahan Marx,bukan dengan menekankan unsur ekonomi melainkan lebh dilihat dari sudut sosiobudaya dan psikologi.Menuru mereka,keadaan keterasingan itu kurang dilihat oleh para ahli ilmu sosial yang masih condong kepositvisme.Dalam anggapan para pendukung postivisme,muncullah problem-problem sosial,pemakaian dan tujauan ilmu sosial seakan-akan ada diluar wilayah dan medan sosiologi itu sendiri,demikianlah Horkheimer.sebaliknya,teori kriis tentang masyarakat menganggap manusia sebagai pencipta cara hidupnya sendiri sebagai keseluruhan.Dan impliksinya adalah bahwa kenyataan konkret yang merupakan titik pangkal ilmu pengetahuan tidak dilihat sebagai data yang perlu diverifikasi seca empiris atau diramalkan sesuai dengan hukum kebarangkalian.
 b.Perdebatan Popper dan Adorno Sekitar Ilmu-ilmu Sosial
      Pada tahun 1961 di Universitas T bingen,Jerman,diadakan suatu simposium mengenai logika lmu-ilmu sosial(The Logic of the Social Sciences),yang diawali dengan dua prasaran yang berjudul sama,masingmasing oleh Popper dan Adorno.Dalam prasarannya Popper menerapkan anggapan-anggapannya tenang metodologi lmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial dalam bentuk 27 tesis.Ini dianggap Adorno yang menakankan bahwa perbandingan dan penerapan itu tidak mungkin,namun ia kurang memperhatikan apa yang telah dikemukakan.Dengan inilah meletuslah apa yang disebut menurut Popper kurang tepat ertentangan sekitar postivisme(der Positivismusstreit),yang merupakan lanjutan dan pembaharuan pertentangan yang terjadi pada permulaan pada abad ke-20 mengenai meode lmu-ilmu sosial.    
 c.Sekitar Adanya Kebenaran Dalam Bidamg Ilmu-ilmu Sosial
      Sejak masa Dilthey dan Weber sudah berulang kali digunakan istilah relativisme untuk menunjukkan anggapan mereka tentang kebenaran.Isilah pluralisme nilai ciptaan Mannheim juga sudah kita jumpai.
      Tanpa ada hentinya manusia mencai serta mewujudkan kebenaran yang ditandai ruang dan waktu,secara konkret dalam masyaraka dan sejarah.Harus diakui bahwa cara pendekatan pada kebenaran dalam ilmu-ilmu alam kiranya lebih berupa pendekatan pada sesuatu yang terdapat diluarsi pengenal.   
 d.Pemikiran Hermeneutik
      Hermeneutik artinya penafsiran ungkapan-ungkapan dan angapan dari orang-orang lain,khususnya yang berbeda dalam lingkungan sosial budaya ataupun yang berada jauh dalam rentang sejarah.Dewasa ini hermeneutik sering dipersempit menjadi penafsiran teks tertulis yang berasal dari lingkungan sosial dan hisoris yang berbeda dengan lingkungan dan dunia pembaca.
      Heidegger,yang sudahkia jumpai,bersama Hans-Georg Gadamer(1900-  )boleh dianggap sebagai tokoh utama epistemologi sehubungan dengan pokok hermeneutika.Dalam hal ini Heidegger,sebagai murid(lalu penggani)Edmund Husserl,sejak awal karyanya menekankan unsur intensionalitas engetahuan manusia: mengenal itu selalu mengenal sesuatu.Anggapan ini diperluasnya dengan mengemukakan bahwa seluruh eksistensi(ek-sis-tensi)manusia ditandai intensionalitas yang disadarinya.Inensional atau keterarahan itu tidak dapat dipisahkan dari pengungkapannya dalam bahasa yang bercirikan interpretasi.
      Gadammer menjadi murid Heidegger(penggantinya juga),dan mengaku berhutang budi kepadanya.Dalam karya utamanya,Wahrheit und methode(1960)-diterjemahkan dalam bahasa Inggris:Truth and Mehod(1975)-ia memang tidak jauh dari Heidegger yang sudah berkembang.Hermeneutik falsafi menurut Gadammer ialahmenyelidiki laar belakang serta syarat-syarat penafsiran yang tepat.Gadmmer berusaha mengatsi cita-cia hermeneuik yang pernah dirumuskan pada masa romantik abad ke-19 sebagai upaya untuk”pindah”ketempat dan waktu atau masyarakat dan jaman tersusunnya naskah atau ucapan yang hendak diafsirkan.Cara kerja itu disebut diakron.
















FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu
Jumlah Halaman 189
Oleh:Dr.C.Verhaak S.J. dan Drs.R.Haryono Iman
GM 20489.686
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Jl.Palmerah Selatan 24-26,Jakarta 10270
Diterbtkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Anggota IKAPI,Jakart,1989

Cetakan pertama:Oktober 1989
Cetakan kedua:Okober 1991

Staf Redaksi
DR.Loren Bagus (Ketua)
Prof.DR.L.Leahy
DR.Franz Magnis-Suseno
DR.F.X.Mudji Sutrisno
DR.N.Syukur Dister
Prof.DR.C.Verhaak



Dicetak oleh Percetakan PT.Gramedia,Jakarta
Isi diluar tanggung jawab Percetakan PT.Gramedia





Tugas Membuat Resume
Filsafat Ilmu





Nama Anggota
Rahmat (042063)
Rahman (042065)    A.Evi Nelda (042041)
    Elsa (042043 )       Damawiah (042071)
Kelas  ” B ”

Jurusan Teknik Informatika
STMIK DIPANEGARA
MAKASSAR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar